Rabu, 27 Agustus 2014

Kesinambungan antara Ilmiah, Edukatif dan Religius

"Mari wujudkan motto UPI yang Ilmiah, Edukatif, dan Religius dengan konsisten," Ujar panitia MOKA-KU UPI 2014 di Bumi Siliwangi. Menggarisbawahi kata Konsisten, ini bukanlah hal semudah membalik telapak tangan. Seperti menyiram tanaman, terkadang terdapat satu hari kita malas untuk menyiraminya. Bahkan orang bijak berkata,"Menciptakan sesuatu itu memang sulit. Tapi yang lebih sulit lagi adalah mempertahankan penemuan tersebut."
Pertama masuk UPI, mungkin akan terasa suasana yang ilmiah, edukatif dan religius. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah hal tersebut akan terus berlanjut? Kita lihat saja ke depannya. Sementara kita pending dulu pertanyaan tersebut, karena blog ini bersifat universal. Artinya penulis berharap bukan hanya satu kelompok saja yang dapat menikmati hasilnya setelah membaca. Maka yang kita bahas kali ini mengenai kesinambungan antara ilmiah, edukatif dan religius.
Sesuai dengan nama blog, postingan ini sebatas pandangan. Siapapun boleh setuju maupun tidak. To the point, pertama saya tarik kata ilmiah untuk dikuras maknanya. Ilmiah adalah salah satu sifat ilmu pengetahuan. Adapun yang mengartikan bahwa ilmiah merupakan hal yang memenuhi syarat pada ilmu pengetahuan. Maka ada hubungan dari kata ilmiah dengan pengetahuan.
Pengetahuan sendiri sifatnya harus kongkrit dan logis, itu hanya dua dari sekian sifat ilmu pengetahuan. Maka untuk mewujudkan kata ilmiah, harus dibuktikan dengan suatu penelitian untuk menghasilkan kebenaran data pada objek penelitian dan dapat diterima dengan akal pikiran. Jadi, jika suatu saat ada yang berkata,"saya memenangkan 6 pertandingan dari 5 pertandingan yang saya ikuti," sudah jelas itu irasional.
Edukatif sendiri artinya mendidik (dalam bahasa Inggris : to educate). Segala sesuatu yang edukatif sifatnya harus mendidik. tersambung dengan kata ilmiah, akan cacat jika penemuan yang kita hasilkan tidak mendidik. Maka, penemuan kita harus bisa dijadikan bahan ajar dan dapat diterapkan serta berguna untuk dipraktikan.
Melihat dari segi aspek religius, sudah jelas ini hal yang utama. Segala sesuatu yang telah terbukti nyatanya dan bersifat mendidik, tidak afdol rasanya jika itu berlintasan dengan moral dan keyakinan kita masing-masing. Contoh, seorang muslim meneliti daging babi yang kini sudah steril cara pengolahannya. Baik dari segi pakan yang dijadikan bahan makanan hewan tersebut, hingga dalam proses pengolahan hewan tersebut menjadi bahan makanan bagi kita. Disamping itu babi diharamkan oleh agama islam sendiri untuk dimakan bagian tubuhnya. Walau ada yang berpendapat hukum haram yang diterapkan umat islam pada pengonsumsian daging babi karena babi hewan yang kotor. Pertanyaannya, kini hewan seburuk babi sudah steril pengolahannya, mengapa masih ambil alasan tersebut?
Jangan kaji dari hukumnya (halal dan haram saja) dan sempurnakan kajian tersebut dengan petunjuk lain. Ada yang mengatakan babi adalah hewan najis. Jika kondisi berkata,"masih ada hewan lain yang dapat dicicipi" maka daging babi kini dalam posisi ragu antara halal atau haram. Kesimpulannya, mengapa harus makan daging yang kita belum tahu ke-halalannya? Lebih baik menjauhinya daripada mencicipinya karena belum jelas status halalnya.
Ini adalah karakter orang timur yang wajib kita budayakan bersama.
Ilmiah, Edukatif dan Religius.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar