Selasa, 02 September 2014

Bermain Angklung Bersama

"Inilah dia. Kita menuju puncak acara dari pertemuan kita kali ini." Ucap moderator pada kuliah umum tadi pagi di balai pertemuan UPI. Sangat menyenangkan bisa mendengarkan seratus orang lebih bermain angklung dipimpin oleh Kang Egi. Konsentrasi sangat diperlukan saat melihat gerak-gerik tangan Kang Egi.

Aku berpikir, pantas saja banyak warga asing mencintai alat musik angklung. Memang benar, alat musik tradisional ini memiliki suara khas tersendiri yang enak untuk didengar. Merdu sekali getaran suaranya, apalagi jika dimainkan oleh banyak peserta. Bukan omong kosong yang aku ucapkan, ini benar-benar nyata adanya.



Angklung adalah alat musik ganda yang berkembang dari pulau jawa, khususnya di tahtar Sunda. Angklung terbuat dari bambu dan cara memainkanya adalah dengan menggoyangkannya sehingga menghasilkan bunyi melalui getar. Dan Kang Egi sendiri yang bilang bahwa Angklung adalah alat musik dari Indonesia, untuk dunia.

Faktanya pada bulan November tahun 2010, UNESCO menetapkan angklung sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia. Sungguh suatu kebanggaan tersendiri bagi bangsa kita. Semoga ini cukup menyadarkan kita bahwa budaya di Indonesia itu sangat beragam. Pertanyaanya, berapa banyak budaya kita yang telah diakui dunia?

Tak usah jauh-jauh berbicara budaya, kita lebih spesifik, alat musik saja. Berapa banyak karya tangan bangsa Indonesia yang telah berkembang dan menjadi trendi di dunia? Di blok timur sendiri sedang naik daun negara Korea dan Jepang. Itukah macan Asia?

Pandanganku mengatakan ya, mereka pantas mendapat julukan tersebut. Kita pun sebenarnya bisa menjadi macan Asia. Hanya saja kebanyakan orang di kita tidak tahu bagaimana cara memulainya. Kita terlalu awam untuk memulai sehingga banyak diantara kita yang tidak inovatif. Aku selalu membenci hal yang mainstream, karena dengan hal yang sudah biasa untuk mengembangkannya kembali butuh proses dan persaingan yang lebih rumit.

Contohnya, aku memilih menjadi rapper. Bukan merendahkan aliran musik lain, tapi aku meyakini bahwa untuk bersaing dengan orang lain di bidang yang sama membutuhkan strategi yang tak sedikit. Jujur sejak duduk di bangku SMP, aku tak sedikit pun mencintai angklung. Alasannya alat musik itu terlalu tradisional dan kuno.

Tapi mindset berubah ketika alat musik itu diperdengarkan setelah dimodernisasi. Itu membuat aku cinta terhadap alat musik angklung. Jika angklung bisa blooming dan naik daun seperti saat ini, mengapa alat musik tradisional khas Indonesia tidak bisa? Mengapa budaya kita tidak bisa? Aku yakin semua pasti bisa, yang perlu kita pikirkan adalah cara memulainya. Setelah semua berjalan, aku yakin sangat mudah sekali untuk mengembangkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar