Menyenangkan bisa masuk dunia kuliah, menjadi mahasiswa yang ringan pikiran. Wajar, kuliah gratis niih. Tapi kadang terbesit dibenaku, bagaimana nasib mereka yang semangat kuliah namun terbebani biaya? Makanya, sungguh kurang ajar jikalau aku tidak bersyukur dan malah leha-leha saat kuliah. Bagaimana bodohnya bila aku lalai. Sudah lulus tanpa testing lewat jalur snmptn, dapat beasiswa pula.
Memang banyak orang beruntung sepertiku, namun lebih banyak lagi orang yang tidak seberuntung aku. Untuk itu, aku akan memaksimalkan masa-masa kuliah. Telah tercatat dalam diariku bahwa,"Aku mendedikasikan diri pada satu instansi yang telah menyadarkan aku belum pernah sebahagia saat ini. Dedikasi itu wujud terimakasih karena jika hanya ucapan yang kuberi, tidak layak aku menginjakan kaki di sini (kampusku)".
Begitupun maksimal saat menempuh hari pertama masuk kuliah. Semangat menjadi mahasiswa kian bertambah saat dosen yang mengajar bebas dari watak kaku. Bagiku, dosen pemarah atau pun tegas tidak masalah, asal jangan kaku dan kalimatnya mudah dicerna.
Ini adalah awal yang sempurna untuk diawali, dan semoga aku mendapatkan akhir yang sempurna untuk diakhiri. Mengapa ini menjadi awal yang sempurna? Bagaimana tidak, disamping aku disambut baik dengan mata kuliah pertama, ternyata ayahku di rumah menunggu kehadiranku segera untuk mendengarkan kesan pertama kuliah. Ternyata ayahku begitu perhatian hingga ingin melihat reaksi anaknya saat disuguhi dunia baru baginya.
Bagiku, ini sangat berkesan. Jika kita hanya membaca, mungkin tulisan ini sedikit monotone dan mainstream. Namun sebenarnya yang akan aku bahas kali ini adalah mengenai perbedaan teori dengan praktik. Makanya aku pancing Anda selaku pembaca untuk terlebih dahulu membaca basa-basi di atas.
Anda memahami cerita di atas, ibaratkan itu adalah teori. Bahkan Anda sanggup mengimajinasikan nya. Anda bisa saja peka, bahkan ikut merasa bahagia. Namun ada satu hal yang membedakan perasaan Anda dengan aku selaku penulis yang merasakan langsung peristiwa tersebut. Akulah yang memahami dan merasakan peristiwa tersebut, ibaratkan aku telah menguasai praktiknya dan Anda hanya sekedar memahami teorinya.
Rekan, setinggi apapun Anda berpendidikan, sungguh tidak etis bila tiada praktiknya. Apalagi jika Anda sekedar mengejar titel Sarjana atau yang lainya. Teori itu untuk diamalkan, bukan untuk dipendam. Mengamalkan teori menjadi praktik sebenarnya membuka luas wawasan kita. Teori terkenal dengan kebakuanya. Namun praktik itu fleksibel.
Maka dari itu, di sesi ini penulis merekomendasikan Anda untuk selalu berlatih dengan praktik dan/atau mengimplementasikan ilmu yang kita dapat melalui jaringan sosial. Tukang cukur tidak bisa memperbaiki sepatu yang rusak, hadirlah tukang sol. Tukang sol tidak bisa memanen sendiri ladangnya, hadirlah tukang kebun. Tukang kebun tidak bisa mudik karena tidak memiliki kendaraan, hadirlah sopir kendaraan umum. Dan seterusnya hingga kita membentuk jaringan sosial tanpa kita sadari.
Rekan, semangatlah meraih mimpi dengan penguasaan teori yang baik dan praktik yang sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar