Rabu, 03 September 2014

Mendengarkan Curhatan Teman

Temanku Dikdik, kelas 1A jurusan MRL UPI. Aku salut saat dia menceritakan pengalamanya di SMK. Diawali dari ucapan dia,"aku sempat difoto bareng pak CT!" Ini adalah bentuk implementasi dari peribahasa from zero to hero. Duduk di kelas 1 SMK bahkan dia tidak mengerti cara bagi kurung, dia tidak tahu hasil dari pembagian 1 dibagi nol, dan dia tidak tahu hasil dari nol kuadrat.

Dia berkata bahwa hal kecil seperti itu saja tidak tahu apalagi kalau ditanya tentang sinus, cosinus, tangen, cotangen. Yang sangat memprihatinkan, tidak ada satu teman pun yang sudi mengajarkan atau sedikit pun membantu dia. Dia sempat menangis melalui telepon dengan gurunya. Dia ingin berubah tapi kondisinya begitu sulit dan tidak mendukung.

Dia dikucilkan, hal ini terdengar dramatis tapi inilah realitanya. Tidak ada satu teman yang ingin mengajaknya menjadi bagian dari kelompok saat mengerjakan tugas kelompok. Kerap sekali dia mengerjakanya sendirian. Pulang sekolah pun sendirian, tidak dengan teman. Meski ada beberapa yang berteman, itu juga tidak seakrab sahabat.


Perubahan yang dia lakukan sangat berat, dan di blog ini aku tidak akan sebutkan satu per satu. Yang jelas, saat dia akan melaksanakan On The Job Training (OJT), dia ngotot ingin masuk TRANS. Namun di sekolahnya belum ada link ke TRANS. Katanya, sudah 3 kali bolak-balik Bandung-Jakarta baru dia diterima.

Selalu saja proses penerimaan diundur. Setelah interview, selalu pihak TRANS berkata,"nanti dikabari lagi!" Setelah melalui beberapa proses, akhirnya dia masuk TRANS. Aku tidak mendapat info tentang dia bekerja sebagai apa, yang jelas dia melaksanakan OJT di TRANS.

Dia bilang, dia ingin sekali bertemu pak Chairul Tanjung untuk mendapatkan motivasi. Katanya setiap jumatan di tempatnya pak CT selalu hadir. Namun dia belum pernah melihatnya sekalipun. Suatu ketika, pak Chairul Tanjung merayakan ulang tahunnya yang ke 51. Hanya tamu-tamu undangan yang bisa menghadiri acaranya. Entah bagaimana caranya, dia menjadi satu-satunya trainee yang hadir di undangan.

Dia melihat pak CT dan setiap mendekatinya untuk bersalaman selalu dihalangi oleh bodyguard. Kembali ada kesempatan, kembali dihalau. Itu dilakukan berkali-kali sampai hatinya menciut sempat pasrah. Kemudian dia sempat menyentuh pak CT sambil berkata,"PAK!" dengan lantang. Bodyguard lagi-lagi menghalau namun pak CT berbalik badan dan membiarkan Dikdik menjumpainya. Akhirnya para bodyguard membiarkannya bersalaman dan menandatangani bukunya dilanjut difoto bersama.

Itu pengalaman dia yang paling berkesan, bisa menjumpai bahkan difoto bareng pak CT. OJT berlalu, temanya yang sangat angkuh sempat iri mendengar dia berfoto dengan pak CT. Tak ingin kehilangan gengsi, temanya berkata,"Dik, gimana nih? Aku kan dulu sempet nantang kamu, tapi sekarang nilai OJT ku 95!" Dengan sombong dia berkata seperti itu. Dikdik tidak peduli dengan nilai, lalu saatnya dia menerima nilai OJT. Mengejutkan, rata-rata nilainya adalah 98. Aku berpikir Dikdik mungkin sedikit menyombongkan dirinya saat itu, jika aku berada di posisinya, aku pun akan sombong dengan nilai tersebut. Sejak peristiwa tersebut, Dikdik dikenal para guru. Bahkan guru yang sempat membencinya kini menyempatkan diri untuk tersenyum padanya.

suatu ketika gurunya menyuruh dia untuk menuliskan setiap cita-cita yang ingin diraihnya. Salah satu harapanya ialah lulus SNMPTN. Grafik cita-cita itu ditulis dan dipajang di atas tempat tidurnya. Setiap dia tidur, dia tidak berani melihat cita-cita tersebut karena pesimis bisa lulus SNMPTN. Temanya yang angkuh kembali menantang. Temanya sangat angkuh hingga meyakini bahwa Dikdik tidak mungkin lulus lewat jalur tersebut.

Sampai pada saat pengumuman SNMPTN, temanya berkata bahwa jika warna kolomnya adalah hijau maka dia diterima. Jika merah, dia tidak lulus. Sangat mengejutkan, kolom hijau terpapar di layar monitor setelah dia membuka akunnya. Yang sangat-sangat mengejutkan lagi, dia lah satu-satunya siswa yang diterima melalui jalur SNMPTN di kelasnya.

Suatu kebanggaan tersendiri. Dulu dia tidak berani melihat grafik cita-citanya. Namun setelah itu, dia melihat grafik tersebut kemudian mencoret kalimat,"lulus SNMPTN". Yang membanggakan kembali, saat dia melihat kolom penyebaran OJT untuk adik kelasnya, terdapat link dengan TRANS. Dia lah pencetusnya.

Dan masih banyak lagi ceritanya, cerita mengharukan. Rekan, terkadang kalimat from zero to hero ini membosankan untuk didengar. Ini terlalu mainstream, berapa juta orang bisa melakukan hal tersebut. Tapi sadarkah bahwa untuk mengimplementasikan kalimat tersebut butuh niat yang keras, usaha yang tak mudah, dan konsistensi yang tinggi?

Menjadi orang baik itu hal yang sederhana, yang luar biasa adalah berbalik arah dari buruk menuju baik. Dari kesalahan lah kita menganalisa problema yang terjadi. Kita mengetahui rasanya menjadi orang bersalah, lebih-lebih mengetahui daripada orang yang tak bersalah yang belum merasakan berada di posisi kesalahan tersebut namun sok tahu tentang akibat melakukan kesalahan tersebut.

Rekan, jangan sepelekan teman-teman. Itu dapat terjadi bukan hanya karena teman kita tidak berdaya, namun juga karena kita merasa paling tinggi. Maka dari itu, merendahlah dan hapuslah ungkapan,"merendah untuk menang". Jika kita kaji lebih jauh, itu kalimat orang angkuh. Merendah yang dia katakan seakan bukan merendah yang sebenarnya, melainkan "pura-pura merendah". Apakah kita akan tetap menjadi orang munafik dengan mengatakan hal-hal baik di balik pribadi yang busuk?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar