4 bulan waktu renggang setelah ujian nasional berakhir, menunggu waktu kuliah tiba aku sempat menjadi karyawan di salah satu toko roti. Ada seorang sales yang kerap dipanggil 'Abah', nama aslinya pak Nanang. Beliau kupilih sebagai tokoh kali ini karena setiap berbincang dengannya selalu saja ada motivasi dan pesan moral yang dia sampaikan.
Dulu, saat 'Sudut Pandang' masih dalam bentuk tulisan di buku catatan, aku selalu menghiraukan pesan moral dan lebih ke arah curahan hati. Namun setelah lama bergaul dengan pak Nanang, aku sempat membuat blog lain dengan nama Chesco/ yang kali ini telah pasif dari dunia maya, aku sempat menyisipkan kategori "kata si Abah" untuk memosting kalimat-kalimat motivasi dari pak Nanang. Kini aku lebih aktif memosting tulisan lewat Sudut Pandang, dan berkat pak Nanang kurancang blog ini sedemikian rupa sehingga terdapat pesan moral untuk kepentingan bersama.
Kembali dari basa-basinya, pak Nanang sempat bilang,"hidup itu seperti cartesius." Artinya ada garis X dan Y yang bila keduanya memiliki nilai maka akan membentuk satu koordinat dengan titik yang jauh dari nol. Garis X melambangkan usaha kita dalam menjalani hidup. Tak sedikit orang berusaha semaksimal mungkin namun melupakan kodrat Illahi yang telah menciptakan kehidupan. Maka, segala upaya yang dia lakukan adalah nol. Walau dia telah berupaya hingga titik 10 pada garis X, tetap ada unsur nol pada koordinat (10,0). Itu tidak bernilai, karena masih bersentuhan dengan titik nol.
Garis Y melambangkan pemanjatan do'a pada Sang Pencipta. Tak sedikit orang yang ingin sukses namun mereka hanya meminta dan meminta. Walau dia telah berdoa hingga titik 10, tanpa upaya dia tetap bersentuhan dengan titik nol pada koordinat (0,10). Dan yang patut dipertanyakan adalah, apakah Tuhan itu pembantu yang hanya dengan dipinta maka segala sesuatu yang kita pinta dengan mudah dikabulkan?
Usaha adalah implementasi dari do'a, dan do'a adalah pendorong dari usaha. Jika kita imbangi antara usaha dengan do'a, maka kita terjauh dari titik nol dan menciptakan satu nilai. Maka bersungguh-sungguhlah dalam berupaya, giatlah bekerja dan jangan lupa kepada Tuhan Yang Maha Mengabulkan do'a.
Seorang ahli ibadah mengatakan bahwa Do'a itu pasti di kabulkan. Ada yang langsung dikabulkan saat itu juga atau di kesempatan lain, ada yang digantikan dengan hal lain yang lebih bermanfaat, ada pula yang dikabulkan di akhirat jaga. Aku meyakininya.
Maka pesan moral yang dapat disampaikan sebenarnya sederhana dan pasti Anda sudah bosan mendengarnya. Untuk kita semua, berusaha lah dan iringi dengan do'a.
Terdengar monotone, tapi pertanyaanya,"Berapa banyak orang yang menjalankan hal tersebut dengan sungguh-sungguh?"
Dulu, saat 'Sudut Pandang' masih dalam bentuk tulisan di buku catatan, aku selalu menghiraukan pesan moral dan lebih ke arah curahan hati. Namun setelah lama bergaul dengan pak Nanang, aku sempat membuat blog lain dengan nama Chesco/ yang kali ini telah pasif dari dunia maya, aku sempat menyisipkan kategori "kata si Abah" untuk memosting kalimat-kalimat motivasi dari pak Nanang. Kini aku lebih aktif memosting tulisan lewat Sudut Pandang, dan berkat pak Nanang kurancang blog ini sedemikian rupa sehingga terdapat pesan moral untuk kepentingan bersama.
Kembali dari basa-basinya, pak Nanang sempat bilang,"hidup itu seperti cartesius." Artinya ada garis X dan Y yang bila keduanya memiliki nilai maka akan membentuk satu koordinat dengan titik yang jauh dari nol. Garis X melambangkan usaha kita dalam menjalani hidup. Tak sedikit orang berusaha semaksimal mungkin namun melupakan kodrat Illahi yang telah menciptakan kehidupan. Maka, segala upaya yang dia lakukan adalah nol. Walau dia telah berupaya hingga titik 10 pada garis X, tetap ada unsur nol pada koordinat (10,0). Itu tidak bernilai, karena masih bersentuhan dengan titik nol.
Garis Y melambangkan pemanjatan do'a pada Sang Pencipta. Tak sedikit orang yang ingin sukses namun mereka hanya meminta dan meminta. Walau dia telah berdoa hingga titik 10, tanpa upaya dia tetap bersentuhan dengan titik nol pada koordinat (0,10). Dan yang patut dipertanyakan adalah, apakah Tuhan itu pembantu yang hanya dengan dipinta maka segala sesuatu yang kita pinta dengan mudah dikabulkan?
Usaha adalah implementasi dari do'a, dan do'a adalah pendorong dari usaha. Jika kita imbangi antara usaha dengan do'a, maka kita terjauh dari titik nol dan menciptakan satu nilai. Maka bersungguh-sungguhlah dalam berupaya, giatlah bekerja dan jangan lupa kepada Tuhan Yang Maha Mengabulkan do'a.
Seorang ahli ibadah mengatakan bahwa Do'a itu pasti di kabulkan. Ada yang langsung dikabulkan saat itu juga atau di kesempatan lain, ada yang digantikan dengan hal lain yang lebih bermanfaat, ada pula yang dikabulkan di akhirat jaga. Aku meyakininya.
Maka pesan moral yang dapat disampaikan sebenarnya sederhana dan pasti Anda sudah bosan mendengarnya. Untuk kita semua, berusaha lah dan iringi dengan do'a.
Terdengar monotone, tapi pertanyaanya,"Berapa banyak orang yang menjalankan hal tersebut dengan sungguh-sungguh?"
Jadi sebenarnya kekuatan itu ada dalam keseimbangan vertikal dan horisontal yang kerap menjadi santapan gurih perbincangan sekulerisasi
BalasHapus